5 kesalahpahaman tentang tes kognitif

Posted by Gian Carlo Binti

08 March 2018

5 kesalahpahaman tentang tes kognitif

Mengukur kelemahan dan kekuatan kognitif anak/siswa dan menggunakan informasi ini untuk mengoptimalkan pengajaran dan pembelajaran yang lebih efektif.

 

Pembicaraan tentang Artificial-Intelligence (AI) dan teknologi yang memberikan pembelajaran yang dipersonalisasi sudah banyak di bicarakan di negara maju, namun tetap terasa sulit dipahami dan tidak praktis bagi kebanyakan pendidik di Indonesia. Kita mengetahui bahwa platform yang paling adaptif pun tidak memperhitungkan bahwa siswa memerlukan pendekatan yang berbeda dan bukan yang latihan yang lebih. Dan sangat tidak realistis mengharapkan guru kita memiliki solusi untuk setiap siswa setiap hari. Apalagi banyak sekolah yang memiliki perbandingan 1:40 guru dan murid.

Beberapa dari kita percaya bahwa jawabannya adalah gaya belajar. Seandainya memahami anak/siswa semudah Myers-Briggs atay DISC profiling. Tes popular menunjukkan bahwa jika siswa/anak menjawab banyak pertanyaan sederhana, maka kita dapat menemukan tipe kepribadian mereka, dan seperti sihir, tahu persis mereka seperti apa… Introvert? Extrovert? Pemikir? Atau salah satu dari 16 kategori yang dapat mengungkapkan bagaimana menginspirasi dan mengajar?

Sayangnya, tes kepribadian atau tes gaya belajar lainnya tidak berhasil. Manusia terlalu rumit. Secara ilmiah, tes semacam ini tidak dapat diandalkan karena jika anda memberi orang yang sama tes yang sama pada hari yang berbeda, hasilnya tidak konsisten, sehingga reliabilitas dari tes tidak dapat diandalkan.

Tes semacam itu tidak banyak membantu, bahkan mereka dapat memaksakan keterbatasan yang menyesatkan.

Memahami tes kognitif

Bagaimana dengan tes kognitif? Inilah tes satu-satunya yang ilmuwan ketahui adalah predictor yang valid dan dapat diandalkan tentang bagaimana anak belajar dengan baik dan di mana mereka cenderung akan mengalami kesulitan.

Menguji anak pada hari berbeda dan anda akan mendapatkan hasil yang sama. Hasilnya memungkinkan para guru untuk mengantisipasi dan mencegah banyak masalah, ini berbeda dengan bereaksi setelah anak kehilangan kepercayaan diri untuk belajar.

Namun terlepas dari banyak bukti yang mendukung tes kognitif, namun tidak dipahami secara baik oleh mayoritas pendidik dan masyarat umum. Maka di bawah ini kami membahas kesalahpahaman tentang tes kognitif:

  1. Tes kognitif hanya berguna untuk anak kebutuhan khusus

Faktanya, setiap orang, tidak peduli seberapa pintar, memiliki kombinasi kekuatan dan kelemahan yang relative unik. Memahami kombinasi unik ini memungkinkan para guru untuk lebih efisien menghubungkan dan mempersonalisasi pengajaran untuk setiap siswa.

Tahukah anda bawha Einstein gagal dalam bagian seni Bahasa saat ujian masuk Perguruan Tinggi?

  1. Tes kognitif terlalu mahal

Tes kognitif seperti AJT CogTest dengan standar internasional menghabiskan biaya dibawah Rp. 800k per siswa, membuatnya terjangkau untuk banyak sekolah.

  1. Mengadministrasi banyak siswa akan meminta kita untuk memiliki banyak instruksi khusus yang akan menghabiskan biaya lebih banyak

Sebuah tes kognitif mengungkapkan kelemahan kognitif yang sebelumnya tidak teridentifikasi, maka ada potensi untuk remediasi. Namun, identifikasi dini kelemahan belajar terbukti mengurangi kebutuhan untuk pelayanan khusus. Sebenarnya, dalam sebagian kasus, guru menggunakan informasi dari tes kognitif untuk memberi anak-anak dukungan untuk membantu siswa belajar lebih nyaman dan efisien tanpa memerlukan akomodasi khusus.

  1. Mengatakan kepada anak-anak bahwa mereka memiliki kelemahan akan menyakiti harga diri mereka

Ketika ditangani dengan benar, dapat membantu anak-anak memahami diri mereka sendiri sebagai pembelajar atau yang disebut meta-kognisi, dan justru meningkatkan harga dam percaya diri mereka.

Dengan membantu siswa lebih sadar diri, mereka akan tahu kapan dan bagaimana melakukan remidiasi dan lebih berhasil. Bila berhasil, maka harga dan percaya diri mereka akan meningkat.

  1. Meskipun kita mengerti bagaimana seorang anak belajar, masih sulit untuk mendukung kebutuhan per individu

Sebenarnya para guru sudah melakukan ini sekarang, namun tanpa strategi yang konsisten dan praktis yang tersedia dan data siswa yang objektif untuk memvalidasi pilihan mereka.

  • Siswa anda memiliki kemampuan ‘Visual Processing’ yang kuat? Gunakan gambar dan grafik untuk merepresentasi informasi agar membantu dia memahami dan mengingatnya
  • Siswa anda memiliki kemampuan ‘Auditory Processing’ yang lemah? Gunaka instruksi yang jelas tanpa suara latar belakang
  • Siswa anda kesulitan mengerti pelajaran matematika? Jika ‘Fluid Reasoning’ mereka lemah anda dapat memberikan contoh menggunakan grafik jika dia mempunyai kekuatan di “Visual Processing’. Atau jika ‘Working Memory’ yang lemah, maka anda  bisa memberikan kalkulator atau salinan formula.

Penelitian memberitahu kita tentang apa yang berhasil dengan baik dimana sebelumnya belum ada. Sekarang setelah anda mengerti mengapa tes kognitif bisa menjadi titik awal yang terbaik untuk pengajaran yang akurat dan berhasil.

Untuk mendapatkan informasi mengenai pendidikan anak, psikologi anak, dan banyak lagi, KLIK DISINI SEKARANG

Source :