Anak Bilingual, Bagaimana Jika Anak Tidak Dapat Berbahasa Ibu?

Posted by Cloudida

06 December 2018

mendidik anak menjadi bilingual

Pentingnya keahlian berbahasa asing khususnya bahasa Inggris bagi masyarakat Indonesia tidak terelakkan. Bahkan banyak yang sepakat dengan kemampuan berbahasa Inggris yang mumpuni dapat meningkatkan kecerdasan otak dan kesempatan anak meraih kesuksesan. Berlomba-lomba orangtua mengajari bahasa asing agar anak bilingual.

Tidak sedikit kini kita temui sekolah-sekolah berstandar internasional menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Seiring kemajuan negara RRC (Republik Rakyat Cina) mendominasi ekonomi dunia, bahasa mandarin pun kini dilirik sebagai bahasa kedua untuk dimasukkan dalam kurikulum.

Pendidikan merupakan bekal kehidupan kelak anak akan memasuki dunia kerja. Pengajaran bahasa Inggris serta bahasa asing lainnya sudah tentu langkah antisipasi agar anak dapat bersaing dan memenangkan kompetisi di dunia kerja nantinya.

Sayangnya, fokus pengajaran bahasa asing pada usia awal anak menjadi polemik di dunia pendidikan Indonesia. Ujian Nasional, penentu kelulusan sekolah diselenggarakan menggunakan bahasa Indonesia. Beberapa anak Indonesia yang terlanjur berbahasa Inggris dari usia balita tidak cakap bertutur bahasa Indonesia. Hal ini menyebabkan anak kesulitan berkomunikasi dengan orang sekitar yang berbahasa Indonesia. Anak-anak baru diajarkan kembali bahasa Indonesia ketika mendekati Ujian Nasional.

Lalu, usia berapakah idealnya anak diajarkan bahasa kedua? Atau bagaimana mengajari anak bahasa kedua dengan tepat tanpa menghilangkan kemampuannya berbahasa ibu?

Ahli patologi bahasa menyatakan bahwa usia tiga hingga empat tahun merupakan usia emas. Pada usia ini kemampuan berbahasa anak berkembang dengan pesat dan cepat, mereka menyerap kata-kata yang mereka dengar di sekeliling. Anak-anak dapat memahami kata-kata baru di dua bahasa berbeda sekaligus tanpa kesulitan.

Untuk menjadikan anak bilingual atau bahkan multilingual secara ideal, yang diperlukan orangtua ialah menggunakan kedua bahasa secara seimbang. Sehingga anak tidak memandang salah satu bahasa tidak terlalu penting dibanding bahasa yang lain. Misal ketika anak melihat bahasa Inggris lebih sering digunakan maka anak akan berpikir bahasa Indonesia tidak terlalu penting untuk dipertahankan, lambat laun bahasa tersebut tidak ditutur dan hilang.

Yang sering terjadi kini anak-anak baru diajarkan kembali bahasa ibu (dalam hal ini bahasa Indonesia) ketika mendekati Ujian Nasional tingkat sekolah dasar demi kelulusan ujian saja. Umumnya saat itu anak sudah menginjak usia delapan tahun atau lebih. Padahal menurut pakar, bagian otak yang mempelajari bahasa sudah tidak berkembang lagi di usia delapan atau duabelas tahun. Maka akan terasa lebih sulit untuk anak-anak mempelajari bahasa baru.

Sangat penting diingat dalam mengajari anak bilingual yaitu keseimbangan penggunaan kedua bahasa dalam berkomunikasi bukan hanya dalam konteks belajar. Jika anak memasukkan kata bahasa Inggris saat berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia, yang dapat Anda lakukan misalnya menanyakan kata tersebut jika dalam bahasa Indonesia ataupun jika terjadi sebaliknya. Hindari menegur anak untuk berbahasa yang Anda inginkan karena hal ini akan menempatkan anak dalam keadaan tidak menyenangkan yang dapat berpengaruh terhadap pandangan anak pada bahasa tersebut.

Source :