Memahami Kecerdasan Kognitif Anak Sesuai Tingkatan Umurnya

Posted by Dr. Seto Mulyadi, S.Psi., M.Si

09 April 2019

Salah satu harapan terbesar orangtua adalah memiliki anak yang cerdas dan berprestasi. Bahkan sejak kecil, anak sering kali sudah dibenamkan akan ekspektasi untuk dapat melakukan segala hal lebih daripada sebayanya. Misal, adanya kecenderungan orangtua mengharapkan anaknya pandai berjalan bisa bicara di saat yang sama.

Adanya ekspektasi, tanpa disadari terkadang membuat orangtua melewatkan fakta bahwa anak punya tahapan perkembangan yang berbeda. Pasalnya, anak-anak telah memiliki kecakapan berpikir serta mengolah informasi bahkan sejak dilahirkan. Kemampuan inilah yang disebut dengan kecerdasan kognitif.

Menurut Dictionary of Psychology oleh Denver (2000), kecerdasan kognitif meliputi berbagai mode pemahaman manusia, mulai dari persepsi, imajinasi, penangkapan makna, penilaian, hingga kecakapan penalaran. Kecerdasan ini kemudian dipengaruhi oleh pengalaman serta interaksi anak dengan lingkungan dan berkembang seiring dengan pertambahan usia anak.

Lebih jauh, orangtua dapat memahami perkembangan kecerdasan kognitif anak dengan bantuan Teori Piaget (1896-1980). Psikolog asal Swiss ini membagi empat tahapan kecerdasan kognitif anak, dimulai dari:

  • Tahap Sensorimotor (usia 0-2 tahun)
  • Tahap Pra-operasional (usia 2-7 tahun)
  • Tahap Operasional Konkret (usia 7-11 tahun)
  • Tahap Operasional Formal (usia 11 tahun hingga dewasa)

Pada tahap awal perkembangan kognitif atau tahap Sensomotorik, anak belajar melalui pengalaman fisik atau sensor panca indera. Anak-anak mulai meniru apa yang dilihat dan didengar. Mereka belajar memahami sebuah objek saat menyentuh benda-benda di sekelilingnya.

Di masa ini pula, anak mengalami masa pertumbuhan serta pembelajaran yang terbilang pesat. Mereka tidak hanya merintis untuk dapat merangkak kemudian berjalan, tetapi juga mulai memahami bahasa melalui interaksi sehari-hari.

Hubungan dengan orangtua pun memegang peranan penting dalam pendidikan anak usia dini. Jalinan interaksi yang hangat dengan orangtua mampu membangun kecakapan komunikasi anak. Selain itu, ayah dan ibu merupakan jembatan sekaligus pengawal anak-anak untuk bertualang menjelajah dunia yang baru dikenalnya.

 

Memasuki Tahap Pra-operasional, anak menunjukkan kematangan berkomunikasi. Mereka mampu menggambarkan sesuatu dengan penjabaran bahasa yang baik. Anak pun mulai memahami representasi simbol untuk melambangkan benda-benda di sekitar mereka.

Namun, kemampuan berpikir anak pada usia dua hingga tujuh tahun ini masih terbatas pada hal-hal yang signifikan dan dialami secara langsung. Mereka belum bisa memahami sebuah kondisi di luar pemikiran mereka sendiri dan cenderung egosentris. Di sinilah anak belajar menempatkan diri dan memahami orang lain secara emosional.

 

Melalui Tahap Operasional Konkret, Piaget merumuskan bahwa anak mengalami perubahan besar dari segi pemikiran dan karakter. Mereka mulai bisa berpikir logis dan mengerti adanya sebab-akibat dari sebuah perbuatan atau peristiwa.

Pada usia sekolah ini pula, anak dapat menerima informasi yang lebih kompleks, seperti adanya klasifikasi pada benda-benda dan angka. Contoh, mereka dapat mengerti adanya pengelompokan jenis hewan atau tumbuhan.

Anak mulai memiliki motivasi untuk melakukan aktivitas atau menuju tujuan yang spesifik. Mereka pun mulai senang untuk mencari teman untuk berkelompok dan bekerja sama.

 

Sementara itu pada Tahap Operasional Formal, anak memasuki fase dewasa. Mereka telah memiliki pola pikir yang lebih baik, logis, dan idealis. Anak mulai punya kapasitas untuk memecahkan masalah karena mereka sudah mampu menganalisis peristiwa dan berpikir secara multi-dimensional.

Kemampuan anak untuk fokus pada suatu hal juga meningkat. Hal ini mendukung mereka untuk melakukan proses pembelajaran yang rumit. Wajar karena pada tahapan ini anak digolongkan dalam usia 11 tahun ke atas dan memasuki masa pendidikan lebih serius.

Source :