Menggali Potensi Anak

Posted by Dr. Seto Mulyadi, S.Psi., M.Si

09 April 2019

Memahami kemampuan kognitif erat hubungannya dengan menggali potensi yang dimiliki anak. Merujuk pada teori Piaget, mempelajari kecerdasan kognitif anak dapat membantu orangtua mengerti kapasitas anak untuk belajar serta menyerap informasi.  Setelah itu barulah orangtua bisa memetakan beragam stimulasi sekaligus aktivitas pembelajaran yang tepat bagi anak.

Misalnya, di tahapan Sensomotorik ketika anak belajar melalui indranya. Orangtua dapat mendidik anak lewat permainan di alam terbuka. Ajak anak bermain dan menikmati keindahan pantai. Biarkan mereka berlarian untuk mengenal tekstur padat pasir, melihat berbagai jenis flora dan fauna, mendengar suara gemericik air, dan merasakan hembusan angin sore.

Begitu pula di tahapan perkembangan selanjutnya. Bila orangtua memahami bahwa di usia 2-7 tahun anak cenderung menunjukkan sifat egosentris, mereka bisa mulai mengarahkan anak pada kebiasaan-kebiasaan baik. Contoh, menyayangi binatang peliharaan atau membiasakan anak berbagi dan berinteraksi dengan kawan seusianya.

 

Pemahaman akan tahap perkembangan kognitif ini akan terasa lebih penting terutama saat anak sudah duduk di bangku sekolah. Meski Piaget menyebutkan pada tahapan ini anak punya daya penyerapan informasi yang tinggi, kemampuan mereka sebagai seorang individu tetap berbeda-beda. Ada kecenderungan setiap anak memiliki daya serap maupun gaya berpikir tersendiri dalam belajar dan mengerjakan tugas.

Peran orangtua diperlukan untuk mengatasi kecenderungan tersebut dengan mengenali potensi anak saat belajar. Misal, anak susah menguasai pelajaran berhitung di sekolah. Maka, orangtua tidak perlu memaksa untuk unggul dalam ilmu matematika dan cari kegemaran mereka. Jika anak ternyata lebih suka belajar bahasa, selayaknya orangtua memberikan lebih banyak arahan pada bidang ini.

Proses belajar akan semakin efektif jika orangtua mengambil langkah-langkah yang menyesuaikan kapabilitas anak. Rasa nyaman dan aman dalam mempelajari sesuatu pun akan dirasakan oleh sang anak sehingga mereka semakin tergerak untuk mengembangkan minat dan bakatnya. Sejatinya, potensi anak-anak hanya dapat terlihat ketika mereka bebas berekspresi tanpa ada rasa takut salah.

Untuk lebih memahami proses pembelajaran yang tepat bagi anak, kini orangtua bisa menggunakan bantuan AJT Cognitive Test atau tes kognitif AJT. Tes ini diambil untuk mengidentifikasi kemampuan anak mempelajari berbagai hal sesuai dengan kekuatan dan kelemahan kognitifnya. Tes ini menggali informasi berupa pemetaan metode pembelajaran bagi anak.

 

Tes kognitif AJT didasarkan pada teori Cattell-Horn-Carroll (CHC) yang komprehensif meninjau kecakapan kognitif individu. Kemampuan berpikir anak akan dilihat lebih mendalam, terutama pada delapan aspek, yaitu kemampuan psikomotor, pemrosesan visual, pemahaman pengetahuan, penalaran cair, memori kerja, penyimpanan jangka panjang, penerimaan jangka panjang, serta kecepatan pemrosesan.

Terlebih, anak akan lebih mudah menerima AJT Cognitive Test karena dikembangkan sesuai konteks budaya Indonesia oleh Tim akademisi dari Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) bekerja sama dengan PT Melintas Cakrawala Indonesia. Penilaian yang diberikan terbilang lebih akurat dan optimal karena mengikuti lingkungan kehidupan anak, seperti alat tes yang mengambil gambar hewan atau tumbuhan khas Tanah Air.

Tes ini menganalisis anak sebagai seorang individu dengan karakteristiknya masing-masing. Maka, rujukan yang nantinya diberikan menyesuaikan bidang apa yang mereka gemari sekaligus kebutuhan apa yang harus ditingkatkan.

Hasilnya dapat dipakai sebagai acuan metode pendidikan yang membuat anak nyaman belajar, baik di sekolah maupun di rumah. Misal, setelah tes dilakukan, orangtua mengetahui bahwa anak memiliki kesulitan mengingat materi mata pelajaran yang memerlukan banyak proses membaca. Di sini, orangtua bisa mengambil tindakan untuk membimbing anak lebih banyak membaca bersama anak dan membantu belajar lewat metode kuis yang menantang rasa ingin tahunya.

Memahami lebih jauh tahapan kecerdasan kognitif anak membuat orangtua tidak perlu lagi meraba-raba fokus pembelajaran yang harus diterapkan agar anak dapat mencapai potensi optimal. Anak-anak pun leluasa menimba ilmu sesuai minat dan bakatnya serta meraih prestasi gemilang.

Source :