Anak Terlalu Sibuk, Apakah Sudah Tepat Sesuai Minat dan Bakat Anak?

Writen by Dr. Seto Mulyadi, S.Psi., M.Si
02 October 2019

Anak Terlalu Sibuk, Apakah Sudah Tepat Sesuai Minat dan Bakat Anak?

Setiap orangtua pasti menginginkan anaknya menjadi yang terbaik. Tentu ada perasaan bangga yang tak bisa dimungkiri pada orangtua ketika anaknya meraih prestasi, baik di bidang akademik atau non-akademik. Sayangnya, untuk memperoleh kebanggan ini, seringkali orangtua mengikutsertakan anak dalam aktivitas yang berlebihan, mungkin ada beberapa anak yang terpaksa mengikuti aktivitas tersebut meski tidak sejalan dengan minat ataupun bakat.

 

Sepulang sekolah, banyak anak masih disibukkan dengan beragam ekstrakulikuler atau les bimbel. Ada pula yang memiliki jadwal harian penuh dengan berbagai kursus privat hingga malam hari.

 

Pelajaran tambahan di luar sekolah tersebut sebenarnya tidaklah salah. Anak bisa mendulang berbagai pengetahuan tambahan yang tidak mereka pelajari secara formal. Les tambahan juga dapat menjadi ajang anak untuk memperluas lingkungan pergaulan mereka.

 

Bagi orangtua yang bekerja, ragam aktivitas ini bisa menjadi pagar penjagaan dalam keseharian bagi anak. Daripada anak melakukan hal-hal yang tidak diketahui orangtua, mereka lebih diawasi dengan adanya kegiatan tambahan di luar sekolah.

 

Namun, ada batasan yang sebaiknya orangtua sadari sebelum memasukkan seabrek aktivitas dalam keseharian anak. Pasalnya, kesibukan berlebihan memiliki efek samping negatif yang mempengaruhi tumbuh kembang anak-anak.

 

Secara emosional, rentetan tugas yang datang tanpa henti akan meniban waktu di mana anak-anak bisa belajar mengenali perasaan dalam diri mereka. Misalnya, anak yang sudah merasa lelah dengan aktivitas di sekolah, tidak akan sempat memproses perasaan ini karena mereka harus mengikuti berbagai aktivitas lain setelahnya.

 

Kelelahan yang tidak sempat diproses tersebut otomatis akan bertransformasi menjadi rasa stres dan frustasi. Akibatnya, anak akan melampiaskan emosi dengan amarah. Jika tidak dikontrol, mereka bisa memiliki kecenderungan marah dengan berteriak dan sering mengamuk.

 

Tekanan berat dari aktivitas berlebihan juga mempengaruhi tingkat kepercayaan diri anak-anak. Mereka akan merasa terbebani untuk selalu memberikan hasil yang terbaik dalam setiap kegiatan. Padahal, mereka bisa jadi sudah kewalahan dengan kegiatan yang belum tentu sesuai dengan minat mereka.

 

Orangtua sebaiknya juga jeli melihat tanda-tanda yang muncul ketika anak mulai dilanda kelelahan karena terlalu banyak aktivitas. Tak jarang anak tidak bisa beristirahat dengan tenang lantaran secara tidak sadar masih memikirkan padatnya kegiatan esok hari. Efeknya, anak kerap bermimpi buruk dan akan terbangun dengan rasa cemas.

 

Bagaimanapun, anak juga membutuhkan waktu rehat. Selingan istirahat di tiap-tiap aktivitas mereka dalam satu hari penting untuk mengembalikan kesegaran pikiran. Kemampuan anak untuk fokus serta penyerapan informasi justru jadi lebih baik setelah pikiran mereka kembali segar.

 

Perlu menjadi catatan bagi orangtua jika anak terlihat gembira saat aktivitas harian mereka batal. Antusiasme anak adalah cerminan minat mereka. Bila mereka tidak senang bergabung dalam satu kegiatan tandanya harus ada evaluasi terhadap les tersebut.

 

Orangtua perlu memperhatikan apakah aktivitas yang anak ikuti datang dari kebutuhan mereka atau kemauan ayah dan ibunya. Saat anak sudah merasa tidak nyaman dan kesulitan akan les atau ekstrakulikuler mereka dalam jangka waktu satu atau dua bulan, jangan paksakan untuk terus mengikutinya.

 

Libatkan anak dalam memilih kegiatan yang akan mereka jalani sehari-hari. Berikan kesempatan untuk mengutarakan opini tentang hal-hal yang menggugah rasa ingin tahu mereka, baik yang berhubungan dengan pelajaran di sekolah, kesenian, hingga olahraga.

 

Orangtua dapat pula mendorong anak mencoba berbagai jenis kegiatan untuk memahami apa yang benar-benar ingin mereka lakukan. Ingat, hindari melihat anak dari kacamata kemampuan orangtua. Setiap anak tentunya punya potensi uniknya masing-masing.

 

Untuk mengetahui minat serta bakat anak lebih akurat, orangtua bisa mengajak anak untuk mengikuti tes minat dan bakat. Salah satu yang direkomendasikan oleh ahli adalah AJT CITest yang akan segera diluncurkan oleh PT Melintas Cakrawala Indonesia.

 

Namun saat ini MCI memiliki instrumen alat tes IQ atau kognitif, AJT CogTest, yang merupakan tes IQ/kecerdasan kognitif dengan menggunakan teori psikologi terkini yang disesuaikan dengan budaya serta kehidupan anak Indonesia. Orangtua akan diberikan hasil tes berupa profil lengkap kecerdasan kognitif anak. Laporan juga disertai rekomendasi psikolog mengenai pendekatan pembelajaran yang dibutuhkan.

 

Dari sini, orangtua dibantu untuk memahami aktivitas tambahan yang anak butuhkan di luar sekolah. Misal, anak dinilai sulit dalam menerima materi pelajaran matematika. Orangtua kemudian dapat memberikan les privat dengan arahan terbaik yang diberikan oleh hasil tes AJT CogTest.

 

Contoh lainnya, saat anak memiliki kelebihan dalam dunia seni. Orangtua dapat fokus memberikan kegiatan tambahan di bidang seni musik, seni lukis atau seni tari.

 

Hasil laporan AJT CogTest memberikan acuan akurat untuk orang tua mengasah kelebihan anak menjadi lebih maksimal seiring dengan pertumbuhannya. Kelemahan anak dalam belajar pun dapat dioptimalkan sesuai dengan kemampuan mereka.

 

Dengan begitu orangtua mampu memetakan aktivitas yang benar-benar anak perlukan. Anak-anak pun bisa menikmati hari mereka tanpa terbebani dengan beragam kegiatan berlebihan yang tidak diinginkan.

 

Ingin tahu lebih banyak soal bakat dan minat, simak pembahasannya di video berikut ini 

Source :



Hai..
Anda Psikolog? Anda Pengajar?